[FF] Penyesalan Terbesar

Selasa, April 10, 2018
Ada banyak kata yang bergelayutan di pikiranku. Sayangnya ku tak bisa merangkainya menjadi sebuah cerita. Penyesalan itu selalu muncul setiap kali aku mencoba menuliskannya. Itulah mengapa kisah ini tak pernah sampai di ujungnya.

Sore itu aku ada janji ketemuan dengan teman lamaku, Jenny. Kami dulu teman kuliah yang setiap harinya bersama. Dimana ada dia, disitulah aku berada. Aku tahu kehidupan dia, pun dia tahu segala tentangku. Selepas wisuda kami dipisahkan oleh tempat kerja. Aku dan dia berada di dua kota yang berbeda, berjarak ratusan kilometer.

Awal mula kami berpisah terasa sangat berat. Tapi sebisa mungkin kami menjaga komunikasi. Sesekali aku mengunjunginya, dia pun demikian. Hingga pada akhirnya dia menikah dengan pria pujaannya. Sedikit demi sedikit aku perlahan mundur dari kehidupannya. Kini dia punya keluarga kecil yang harus dia urus. Namun, kami masih saling bertukar kabar.

Akan tetapi, semenjak putra pertamanya lahir, waktunya benar-benar tak lagi longgar seperti dulu. Dari yang dulunya kami setiap hari chatting, kini berkurang seminggu sekali, sebulan sekali, bahkan menjadi tidak sama sekali. Kami saling mengabari jika ada momen-momen besar di kehidupan kami, seperti misal dia berhenti kerja karena suaminya dipindahtugaskan di kota lain.

Sudah tiga tahun ini kami tak bertemu. Dan kebetulan seminggu ini dia berada di kota tempatku berada. Ada acara keluarga, begitu katanya. Dia mengajakku untuk ketemuan, ada hal penting yang ingin dia tunjukkan padaku. Aku pun demikian, ada yang ingin ku sampaikan padanya.

Sore itu, di sebuah kafe ternama di kota ini, aku datang menemuinya.

Ku lihat dia duduk di salah satu sudut di kafe itu. Dia tak sendirian. Bukan bersama suaminya, melainkan seorang wanita dengan senyum yang indah. Dia menyadari kedatanganku dan melambaikan tangan agar aku segera bergabung. Dia tak cerita kalau membawa teman di hari itu.

"Hai... " sapanya. "Aku tadi sudah pesan duluan. Kamu mau pesan apa?"
Aku menyebutkan beberapa menu. Aku sengaja mengosongkan perutku demi pertemuan istimewa ini. Hasilnya aku kalap memesan makanan.

Sembari menunggu pesananku datang, kami cerita panjang lebar, kesana kemari. Tak lupa dia mengenalkan siapa yang bersamanya hari ini, salah satu kerabatnya bernama Jira. Dari sekian banyak nostalgia kami, dia selipkan cerita tentang kerabatnya itu. Aku tak tahu maksudnya hingga akhirnya dia menjelaskan maksud kedatangannya.

"Sebenarnya tujuanku bertemu denganmu hari ini adalah untuk mengenalkan kerabatku ini kepadamu. Dia cantik, berpendidikan tinggi, dan aku yakin dia cocok denganmu."

"Sewaktu aku memperlihatkan fotomu padanya, dia langsung tertarik padamu. Tapi dia ingin aku memperkenalkannya padamu."

"Selama ini aku tak pernah dengar cerita tentang gadis yang kau sukai. Buktinya kau juga belum menikah sampai saat ini. Bagaimana menurutmu? Kau setuju kan aku jodohkan dengan kerabatku ini? Dia berharap banyak padamu."

Dia bicara panjang lebar tanpa aku bisa menyelanya. Ku lihat wajah wanita disampingnya begitu merah merona, terlihat malu, bahagia. Sementara aku? Bagaimana aku menjawabnya?

"Pesanannya Tuan, Grill Beef Tenderloin Steak, Medium French Fries, dan minumnya Jamaican Delysh Latte. Sudah semua ya, ada yang lain?"

Kedatangan pelayan kafe mengantar pesananku membuat suasana sedikit membaik. Ketegangan di wajahku sedikit memudar.

Ku tatap dua wanita dihadapanku. Wajah penuh harap itu menungguku berbicara. Perlahan aku mengambil sesuatu dibalik jaketku.

"Maafkan aku, Jen. Bulan depan aku menikah. Ini, kamu orang pertama yang aku undang." kataku sembari menyerahkan sebuah undangan pernikahan bertuliskan nama sahabatku.

"HAA. MENIKAH? BULAN DEPAN?"
"Iya."
"Yang benar saja?? Kau tahu, gimana perjuanganku meyakinkan Jira agar mau ku perkenalkan padamu. Dia memang tertarik padamu, tapi dia tak punya cukup kepercayaan diri agar bisa kau terima. Setelah ku yakinkan berkali-kali dan kemungkinan 90% kau bisa menerimanya, bahkan aku sampai mengarang cerita demi pertemuan hari ini, kau justru memberiku undangan ini. Jangankan soal lamaran yang entah kapan itu terjadi, kau bahkan tak menceritakan sedikit pun tentang wanita yang ingin kau nikahi ini. Kau pikir aku ini siapa haaa?"

Dia melempar undangan yang ku berikan tepat di wajahku. Dia begitu marah dan kesal. Seketika dia beranjak dari kursinya tanpa perlu mendengar penjelasanku. Dia keluar meninggalkan kami. Sekilas ku lihat wajah Jira yang nampak terpukul. Sementara aku, aku berusaha menyusul sahabatku. Aku tak ingin berakhir seperti ini.

Ku berlari kecil, berharap bisa mengejar kepergiannya. Terlambat, dia sudah naik taksi. Aku kembali ke kafe, menuju parkiran, mengambil motorku dan berharap masih bisa mengejar sahabatku.

"Ah, sial. Aku kehilangan jejaknya." Batinku kesal.

'Apa yang harus ku lakukan? Mengapa dia bersikap seperti itu? Bukankah seharusnya dia ikut berbahagia atas pernikahanku?'

Aku tak tahu harus berbuat apa. Seketika aku teringat Jira yang ku tinggalkan sendirian di kafe. Aku akan bicara baik-baik padanya dan berharap dia bisa mengembalikan hubunganku dengan kawanku.

Setibanya aku di kafe, ku lihat meja di sudut ruangan itu tengah dibereskan. Pesananku yang belum sempat ku nikmati itu kini telah diangkat. Tak ku lihat Jira disana.

Aku duduk lemas, makin kehilangan arah. Apa yang telah ku lakukan? Mengapa semuanya jadi begini?

Sungguh bodohnya aku. Sebagai pria aku merasa tak berguna, aku tak bisa jadi orang yang pengertian.

Dan penyesalan terbesarku, yang selalu membuatku tak mampu menyelesaikan cerita ini, aku membiarkan Jira membayarkan seluruh tagihan untuk pesanan yang sedikit pun belum ku sentuh.

2 komentar:

  1. salah temennya sih, main jodoh2in aja gak nanya dulu udah punya calon apa belom hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya ya, tapi temennya merasa, selama ini dia nggak pernah cerita apa-apa, ya mungkin saja emang belum nemu jodohnya, makanya langsung jodoh2in :p

      Hapus

Terima kasih telah mengunjungi Wamubutabi :)
Silahkan tinggalkan jejak ^^

Diberdayakan oleh Blogger.